Seperti yang pernah dikatakan oleh Mario Teguh, tokoh yang tak asing lagi bagi kita. "Anak muda tanpa galau itu nggak lengkap." Ungkanya pada sebuah acara yang tayang setiap Minggu malam di salah satu stasiun TV swasta Indonesia.
Kalau saya boleh menggambarkan, galau itu semacam perasaan yang bisa dikatakan nanggung. Bimbang, gundah, gulana, merana, tersiksa. Mau nangis ragu, mau ketawa juga nggak bisa. Hampir mendekati linglung. Ciri-cirinya kalau diajak ngobrol udah mulai ngelantur atau nggak nyambung, suka tiba-tiba ngamuk sendiri (curcol dari penulis,haha) .Ciri lainnya sering-sering update status baik di facebook maupun di twitter dengan bahasa-bahasa yang agak didramatisir.
Akhir-akhir ini kata galau memang sudah mendarah daging khususnya di kalangan remaja. Jiwa-jiwa yang labil memang kerap dihantui kegalauan. Terkadang ada kalanya nikmati sajalah masa-masa itu, toh nantinya itu semua akan menjadi masa-masa yang akan kita rindukan ketika kita sudah bewasa.
Tapi bukan berarti harus selalu mendramatisir kegalauan itu. Pada dasarnya galau itu pilihan. Kita punya hak sepenuhnya untuk galau atau tidak. Ketika kita memilih untuk "menggalau", kalau kita sadat sebenarnya banyak yang harus kita korbankan, seperti waktu, perasaan, bahkan mungkin orang-orang di sekitar kita. Walaupun kita juga tidak bisa selalu mengarahkan hati dan perasaan untuk tetap stabil, karena kita memang bukan robot. Tapi setidaknya kita bisa mengelompokkan hal-hal apa saja yang perlu dan tidak perlu kita galaukan.
Galau adalah perasaan yang datangnya tiba-tiba alias dadakan. Nggak pandang bulu dia mau nyerang siapapun. Ada beberapa hal yang saya lakukan ketika saya galau, diantaranya berusaha menenangkan diri, kalau memungkinkan lari-lari kecil dan meneriakkan kata-kata motivasi kepada diri saya sendiri seperti "semangat","smile","kuat","bisa" dan kata-kata lain yang serupa. Ikut gabung sama teman-teman yang lagi seru-seruan bareng. Atau berteriak sekencang-kencannya, lagi-lagi kalau situasi dan kondisinya memungkinkan. Hal-hal tersebut sedikit banyak bisa mengatasi kegalauan itu.
Billy Boen, seorang Genderal Manager termuda sedunia dari Indonesia, yang kala itu menjabat sebagai GM di usianya yang baru 26 tahun. Beliau pernah mengatakan janganlah kita berprinsip seperti air mengalir, karena air itu mengalir ke tempat yang lebih rendah, maka jika kita berprinsip seperti air mengalir, kita juga akan menuju ke tempat yang lebih rendah. Maka dari itu lawanlah arus itu. Sama halnya kita pun perlu melawan rasa galau itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar