Khoirul Fajar Utama. Nama yang simple dan mudah diingat. Kurasa tak ada seorang pun di sekolah sebesar ini yang tidak tahu Khoirul. Bukan karena namanya yang simple dan mudah diingat. Dia adalah salah satu siswa teladan di sekolah ini, salah satu sekolah favorit di Yogyakarta. Ia selalu menduduki peringkat 1 baik itu di kelas maupun di sekolah.
Tempo hari saat daftar ulang siswa aku dan Khoirul tak sengaja bertemu. Kami sempat ngobrol singkat dan di ujung perbincangan dia menawariku untuk duduk sebangku dengannya. Dia tahu teman sebangkuku terdahulu pindah sekolah. Karena tidak punya alasan untuk menolak, aku pun mengiyakan permintaannya.
Sebelumnya aku tak banyak tahu tentang Khoirul. Selama dua tahun aku seruangan dengannya hanya sesekali saja aku berkomunikasi, itu pun masih dalam lingkup tugas dan pelajaran. Dia sering terlihat sibuk dengan tumpukan buku-buku tebal yang bisa membuat seekor anjing pinsan jika ditimpuk dengan buku tersebut. Membuatku enggan untuk menyapa atau untuk beramah-tamah dengannya. Mungkin teman-temanku yang lain juga beranggapan demikian, sehingga selama dua tahun dia tak banyak punya teman.
Ini hari pertamaku memasuki kelas baru yang ku harap dengan suasana baru. Tapi mungkin akan menjadi suasana hambar bagiku. Khoirul belum menampakkan diri di kelas 3 IPA 1. Aku hanya bengong sendirian di kelas. Apa aku dan Khoirul bisa berkomunikasi dengan baik? Tanyaku dalam hati. Sekelumit pertanyaan yang sebenarnya tidak penting berputar-putar di otakku. Apa Khoirul begini, apa Khoirul begitu…
Teman-temanku yang lain belum banyak yang datang. Kuletakkan kepalaku di atas meja dan ku ayun-ayunka kakiku serta memandai tembok dengan tatapan kosong. Tiba-tiba kudengar ada yang meletakkan tas di meja ku. Ku angkat kepalaku dan ku tatap sosok di sampingku.
“Kenapa Nis, pagi-pagi kok manyun?” Sapa Khoirul sambil mendaratkan pantatnya di kursi sampingku. “Mbok senyum yang manis, senyum itu kan ibadah.”
Waw! Jauh dari yang ku sangka sebelumnya. Kurasa musuh terbesar dalam hidup ini adalah pikiran kita sendiri. Pikiran telah meracuni diriku sendiri sehingga tak mampu melihat sisi baik dari Khoirul. Maafkan aku Tuhan, aku telah berburuk sangka dengan ciptaanMu.
***
Keakraban kami mulai terbangun hari demi hari. Kami sering mengerjakan tugas bersama, jajan bersama, pulang bersama. Hampir seluruh waktuku di sekolah ku habiskan bersama Khoirul. Dan harus ku garis bawahi bahwa Khoirul tidak seburuk yang ku kira selama ini.
Semua berjalan dengan sempurna. Aku merasakan kebahagiaan yang indah bersama Khoirul. Sampai pada suatu pagi Khoirul tiba-tiba membating tasnya yang penuh dengan buku-buku di atas meja. Aku tersontak dan berdiri. Kupandangi wajah Khoirul yang lain dari biasanya. Pagi ini tak kudapati wajahnya berseri-seri seperti biasanya.
“Kenapa Rul, pagi-pagi kok manyun?” Aku masih ingat itu kalimat pertama Khoirul ketika dia mendapatiku sedang dalam keadaan hambar di hari pertama masuk sekolah.
Aku masih memandangi wajahnya yang merah padam. Ia terlihat seperti bedakan dengan awan mendung. Aku terdiam dan menunggu Khoirul berucap. Namun ternyata aku menunggu hal yang sia-sia. Tanpa ba-bi-bu dan bahkan tanpa menoleh sedikitpun kearahku dia langsung meninggalkan kelas begitu saja.
“Rul ! Khoirul, mau kemana kamu?” Teriakku sambil mengejarnya.
“Jangan ikuti aku!” Ujarnya penuh amarah lalu berlari menuju moshola.
Aku pun tunduk akan perintahnya. Mungkin dia memang sedang tak ingin diganggu.
***
Khoirul kembali ke kelas bersamaan dengan Pak Doto. Guru Biologi yang pagi itu mengampu di kelas kami. Sepanjang pelajaran Khoirul hanya diam. Dia terlihat tak bersemangat sedikit pun. Kulihat tatapannya yang kosong. Aku berani menjamin bahwa tak ada satu pun materi dari Pak Doto yang berhasil dia serap dengan baik. Sembilan puluh menit terasa begitu lama. Pak Doto pun mengakhiri pertemuan pagi ini dan meninggalkan kelas. Mulailah terdengar gemuruh dari para siswa sambil menunggu kedatangan guru berikutnya.
Suasana sangat berbeda di bangku depan paling pojok. Disanalah aku dan Khoirul bersandar. Kami saling diam. Aku belum punya nyali untuk memulai perbincangan. Dan nampaknya Khoirul pun belum menunjukkan raut muka yang stabil. Dia masih terlihat sangat dikuasai amarah. Entah lah, semoga itu hanya dugaanku.
Sepanjang hari ini kami terus dikuasai diam. Sampai jam pelajaran usai pun tak ada sepatah kata yang keluar dariku maupun dari Khoirul. Kelas mulai sepi ditinggal penghuninya. Aku berusaha menyibukkan diri dengan mengemasi perlengkapan belajarku. Sembari ku kumpulkan keberanianku untuk mengajak bicara pria di sebelahku.
“Rul…” Lirih ku panggil namanya.
Suaraku hampir tak terdengar. Perlahan ku tatap dia, wajahnya begitu dingin. Sepertinya dia tak mendengar suaraku. Kembali ku panggil dia. Kali ini dengan suara yang sedikit keras. Aku yakin dia mendengarnya. Ku lihat dia hanya menunduk dan menghela napas.
“Hmm… Aku pusing Nis, bingung harus berbuat apa.”
“Bingung kenapa Rul?”
Dia menyibakkan rambutnya yang cepak lalu menggaruk-garuk kepalanya yang kurasa tidak gatal. Terlihat dia berusaha meredam amarahnya.
“Aku heran dengan jalan pikiran orang tua ku. Mereka ndak pernah mendukung cita-citaku. Terlebih ayahku.” Dia berhenti sejenak, kembali mengatur emosinya dan mulai lagi bercerita. “Aku ingin jadi guru Nis, dari kecil aku ingin sekali jadi pendidik. Tapi apa kata orang tuaku? Mereka ndak mengizinkan aku melanjutkan kuliah. Mereka ingin begitu aku lulus aku langsung kerja, cari uang dan ndak merepotkan mereka lagi. Gitu lah, Nis pemikiran orangtua ndeso macam keluargaku.”
Aku tertegun mendengar kisah Khoirul. Lika-liku hidup memang tak akan pernah berhenti selagi kita masih menghirup udara di bumi ini. Ada orang tua yang mati-matian ingin menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya. Tak peduli berapa pun biaya yang harus mereka keluarkan, yang penting anak mereka kelak mendapat gelar sarjana, namun si anak justru mati-matian menolaknya. Yang ini lain lagi ceritanya, anaknya mati-matian ingin kuliah, tapi orang tuanya yang keberatan. Tapi pasti mereka punya alasan tersendiri mengenai hal itu.
Ku letakkan tangan ku di bahu Khoirul. Ku coba masuk ke dalam kalbunya dan berusaha menyemangatinya.
“Tuhan pasti berikan jalan untuk hambanya yang mau berusaha dan berdoa.”
***
Waktu berjalan begitu saja. Kami memasuki bulan-bulan intensif pra Ujian Nasional. Sesuai jadwal, UN akan dilaksanakan bulan depan. Pihak sekolah menjalankan program-program yang menyibukkan para siswa dengan berbagai persiapan untuk menghadapi perangnya para pelajar. Dari mulai penambahan jam pelajaran, try out yang dilaksanakan tiap pekan, dan masih banyak lagi kegiatan tambahan yang melelahkan.
Bagitu juga dengan Khoirul. Tak cukup dengan kesibukan di sekolah. Dia masih mencari kesibukan lain untuk mengejar mimpinya. Dia bertekad harus lulus dengan peringakat pertama, sehingga ada kemungkinan dia bisa diterima di perguruan tinggi tanpa biaya. Banyak sekali beasiswa yang ditawarkan baik pihak sekolah maupun pihak perguruan tinggi untuk siswa-siswa berprestasi yang ingin melanjutkan studi. Pemerintah pun juga menawarkan biaya pendidikan bagi siswa berprestasi yang ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya namun terbentur biaya. Ada ribuan kursi yang bisa diperebutkan para calon mahasiswa di seluruh Indonesia untuk masuk perguruan tinggi negeri tanpa biaya dan justru mendapat biaya hidup selama menempuh perkuliahan. Tanpa sepengetahuan orang tua, Khoirul mendaftarkan diri. Besar harapannya untuk masuk ke salah satu Perguruan Tinggi Negeri walaupun dengan ribuan bahkan puluhan ribu pesaing.
“Yang penting aku usaha.” Ucapnya kepadaku ketika hendak mendaftar.
***
Hiruk pikuk orang-orang berpakaian putih abu-abu begitu terasa. Keceriaan para siswa yang baru saja melepas jabatannya sebagai siswa terlihat di berbagai sudut sekolah. Walaupun sudah ada himbauan dari para guru untuk tidak melakukan aksi coret-coret baju, namun mereka tak mengindahkannya.
Keceriaan itu juga dirasakan oleh Khoirul. Dia berhasil meraih juara umum kembali. Aku bangga dengan temanku yang satu ini. Usahanya selama ini telah membuahkan hasil.
“Orang tuamu pasti bangga punya kamu.” Kataku di tengah-tengah selebrasi teman-teman.
Dia hanya angkat bahu. Dia menatap langit yang pada siang itu terlihat sangat cerah.
“Aku ndak peduli mereka bangga atau ndak, prestasiku selama ini aja ndak pernah mereka anggap. Lagi pula aku melakukan ini semua demi aku ingin jadi guru.”
Kekesalan Khoirul kepada orangtuanya kulihat semakin hari semakin bertambah. Sesekali aku mencoba menasihatinya, namun nihil. Sifat orang tua memang beragam. Tapi mereka pasti punya alasan tersendiri mengapa bersifat sedemikian sehingga sang anak terkadang salah persepsi dan menganggap orang tua mereka kolot dan lain sebagainya. Mungkin karena komunikasi yang kurang baik antara orang tua dan anak. Maksud orang tua itu baik, hanya saja orang tua tidak tahu cara yang baik untuk menyampaikannya kepada anak. Sedangkan si anak lebih mengedepankan ego dan menuntut orang tua harus selalu sejalan dengan pikirannya.
Seminggu berselang Khoirul datang ke rumahku. Wajahnya sayu dan tak bergairah. Dibawanya sebuah amplop putih lalu diserahkannya kepadaku. Ku buka perlahan dan ku baca isinya. Setelah itu kumasukkan kembali isi amplop tersebut dan ku kembalikan kepada pemiliknya sambil tersenyum selebar mungkin. Ini adalah senyuman terberatku. Tapi aku harus menyemangati Khoirul bahwa ini bukan akhir dari pencapaian cita-citanya.
“Orang beruntung bisa mengalahkan orang pintar.” Ujarnya lirih.
“Masih ada jalan lain Rul, guru itu ndak boleh gampang nyerah kaya gini.” Aku masih tersenyum kepadanya, “Lagi pula guru itu ndak hanya yang berseragam, yang berangkat pagi-pagi trus pulang siang, guru itu…” kalimatku terputus.
“Alah Nis, kamu tu ngomong apa. Dah ya aku mau pulang.”
Aku hanya terdiam melihat kepergian Khoirul. Ku tarik napas dalam-dalam untuk menenangkan pikiran dan hatiku. Aku belum pernah melihatnya seperti ini.
***
Khoirul memang bukan tipe orang yang mudah putus asa. Segala kemauannya harus dia dapatkan. Mungkin dia belum diberi kesempatan untuk bisa kuliah gratis. Dia pun mencoba kembali masuk PTN dengan jalur regular bersubsidi. Lagi-lagi tanpa sepengetahuan orang tuanya. Tekadnya memang sudah bulat untuk menjadi guru. Dia tak menghirauan apa pun yang menjadi penghalangnya.
Karena aku dan Khoirul sudah jarang bertemu, salah satu media komunikasi kami hanyalah melalui ponsel. Malam itu kami sms-an hingga larut malam. Tak banyak yang kami bicarakan. Kami hanya terfokus pada pembicaraan tentang usahanya untuk meraih bangku kuliah. Dia mengakatakan bahwa ini adalah usaha terakhirnya. Dia begitu manaruh asa yang besar untuk lolos pada seleksi kali ini.
Ketika aku menanyakan tentang orang tuanya, dia tak lagi membalas sms ku. Ku pikir mungkin dia sudah terlelap karena malam itu memang sudah sangat larut. Aku pun turut membangun mimpi.
***
Tanganku sedari tadi tak lepas dari benda kotak mungil yang keberadaannya tak asing lagi di era modern seperti sekarang ini. Beberapa kali ku coba menghubungi Khoirul. Tapi tak ada hasil yang kudapat. Rupanya malam itu adalah malam terakhir dia sms. Setelah itu aku tak tahu lagi kabar tentangnya. Apa yang terjadi dengan Khoirul? Sudah hampir sebulan aku tak tahu menahu tentang teman terdekatku. Hawa panik mulai menghampiriku dan perlahan menyelimutiku. Tak henti aku mencoba menelepon dia. Tapi yang terdengar hanyalah suara operator.
Rasa panikku sudah tak bisa ku kendalikan lagi. Aku pun mendatangi kediaman Bapak Raharjo, ayah dari Khoirul. Depan rumah tampak sepi seperti tak perpenghuni.
“Assalamu’alaikum!”
Tak ada yang menyahut. Kembali kuteriakkan salam. Tetap tak ada yang menyahut. Ku ketuk pintu sambil ku ucapkan salam. Usahaku belum membuahkan hasil. Berkali-kali kulakukan hal yang sama hingga akhirnya aku pun menyerah. Ku balikkan badan dan meninggalkan keheningan tempat tersebut. Namun urung kulakukan karena lirih kudengar ada yang menjawab salamku dari dalam rumah.
Seorang wanita paruh baya terlihat berdiri di depan pintu. Terlihat kerutan yang nyata di beberapa bagian wajahnya yang membuatnya tampak lebih tua atau mungkin memang sudah tua. Beliau menatapku dengan seksama. Mungkin beliau terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Beliau pun mempersilakan aku masuk. Aku mencoba sedikit basa-basi sebelum akhirnya menyampaikan maksud kedatanganku.
“Khoirul baik-baik saja, nduk. Tapi dia lagi ndak mau diganggu sama siapapun. Akhir-akhir ini dia selalu mengunci diri di kamar, ibu sendiri ndak tahu apa yang dia lakukan di dalam kamar. Dia keluar hanya saat perlu saja sekedar untuk makan atau mengambil air wudhu setelah itu dia kembali lagi di kamarnya. Mungkin dia sudah bosan jika harus selalu bertengkar dengan ayahnya.” Tutur wanita itu yang tak lain adalah ibunda Khoirul.
“Bolehkah saya menemuinya bu?” Pintaku dengan penuh harap.
Beliau tampak sedikit ragu, tapi ketika melihat sikapku yang penuh harap beliau pun masuk dan menghilang di balik tirai. Cukup lama ibu Khoirul berada di dalam. Apa mungkin Khoirul tidak mau menemuiku? Ku lihat sekeliling ruangan untuk mengusir rasa khawatirku. Tak banyak yang bisa ku lihat di ruangan mungil ini. Hanya ada kursi beserta meja yang terbuat dari kayu jati. Mungkin ini peninggalan dari generasi sebelumnya, terlihat dari ukiran-ukiran kunonya. Di dinding hanya ada sebuah pigura foto keluarga dan sebuah jam dinding tempat cicak-cicak bersembunyi di baliknya.
“Ada apa Nis, datang ke sini?” Suara itu sungguh tak asing di telingaku. Senyumku mulai merekah melihat Khoirul berdiri di depanku.
“Aku khawatir, Rul sama kamu, beberapa kali aku hubungi kamu tapi ndak bisa. Kamu ndak kenapa-kenapa kan, Rul?”
“Aku ndak pa-pa, kamu lihat sendiri kan, aku sehat wal afiat. Aku memang sengaja menon-aktifkan hp ku.” Jawabnya datar.
Aku memang sedang berhadapan dengan Khoirul, tapi aku seperti berhadapan dengan makhluk asing. Ini bukan Khoirul yang selama ini ku kenal. Apa mungkin ini sisi lain darinya yang tak pernah ku tahu? Aku sungguh merindukan Khoirul yang ceria, supel dan sedikit jenaka, bukan Khoirul yang dingin dan terlihat angkuh. Aku memutar otak untuk mengusir pikiran negatifku dan berusaha mencari topic perbincangan yang pas. Tapi belum sempat aku menemukan, Khoirul sudah lebih dulu menyambung kalimatnya.
“Apa lagi? Kalau sudah ndak ada keperluan lain, aku mau melanjutkan aktivitasku.”
Sungguh tiada ku sangka kalimat itu keluar dari seorang Khoirul. Hatiku seperti teriris belati tajam mendapat perlakuan macam ini. Aku pun bergegas pamit dan tak sudi berlama-lama di tempat ini.
“Maaf jika aku menggangu kesibukanmu. Permisi.” Ujarku lirih.
Sekuat tenaga ku coba membendung butiran-butiran kecil di pelupuk mataku. Namun semakin ku tahan, aku semakin tak kuasa. Tumpahlah ia dan membanjiri kedua pipiku.
***
Siang itu udara terasa begitu panas. Aku disibukkan dengan beberapa konsumen langganan ibuku yang tampak sudah kelaparan dan tak sabar ingin segera menyantap semangkuk soto sapi dan soto ayam khas buatan ibuku. Warung soto milik ibuku sudah berdiri sejak aku SD. Setidaknya ada lima karyawan yang ikut membantu di sini. Walaupun sudah dibantu dengan lima orang karyawan, ibuku masih sering kewalahan sehingga setelah lulus aku pun ikut direkrut menjadi karyawan di sini walaupun hanya sementara. Siang yang luar biasa ini kami kebanjiran pelanggan yang luar biasa pula. Sebagai pramusaji yang baik aku harus cekatan agar pelanggan tidak kecewa. Aku harus segera melayani tamu-tamu yang baru datang. Seperti tamu yang baru saja duduk di meja no.9.
“Pesan apa mas?” Tanyaku tanpa memperhatikan sang tamu. Mataku tertuju pada secarik kertas kecil di tangan kiriku.
“Soto spesial senyuman satu ya mbak.” Apa pula maksud tamuku yang satu ini? Tanyaku dalam hati.
Ku angkat wajahku demi memandang tamuku. Betapa terkejutnya aku. Jantungku serasa berhenti berdetak. Khoirul. Beberapa pekan terakhir ini kami hilang kontak sama sekali. Dan kini dia tiba-tiba hadir kembali. Ku perhatikan dia tanpa berkedip. Senyumnya begitu tulus. Aku berusaha berbaik sangka, mungkin dia ingin minta maaf atas perlakuannya tempo hari.
“Buruan mbak, saya udah laper!” Aku pun bergegas mengambilkan semangkuk soto untuknya. Aku minta izin kepada ibuku untuk menemani tamuku.
Ku serahkan semangkuk soto sesuai pesanan. Dia makan sangat lahap. Dalam hati aku masih bertanya-tanya apa maksud kedatangannya yang tiba-tiba. Tapi aku tetap berusaha untuk mengoptimalkan positif thinking pada diriku. Sepanjang dia makan tak ada perbincangan antara kami. Aku belum berniat untuk memulainya, karena aku masih berharap dia yang memulai dengan permintaan maaf kepadaku.
“Alhamdulillah kenyang.” Ujarnya setelah menghabiskan makanannya. “Enak banget, Nis soto buatan ibu kamu.” Pujinya, aku tersenyum menanggapinya.
“Oh ya, sampai lupa, gimana kabarmu? Baik-baik aja to? Aku tadi dari tempat ujian langsung kesini. Udah plong aku sekarang, tinggal nunggu hasil, semoga prediksiku ndak meleset ya, Nis.”
Hingga akhir perbincangan pun tak ada kata maaf yang keluar dari mulut Khoirul. Seperti tak pernah terjadi apa-apa antara kami. Dan air mata itu, seperti tak ada artinya. Kedua sisi hatiku berperang. Apa sahabatku ini sudah tak berhati hingga dia semudah itu menyakitiku lalu semudah itu pula datang dengan aura yang baru. Atau mungkin dia mendadak amnesia setelah kejadian itu? Tapi di sisi lain aku merasa bahagia Khoirul sudah kembali seperti Khoirul yang ku kenal. Kedatangannya dengan pancaran wajahnya tulus sudah ku anggap sebagai permintaan maaf darinya.
***
Dugaanku ternyata salah. Khoirul belum seutuhnya kembali. Dia terlalu menyibukkan diri dengan urusannya kepada Tuhan yang kuanggap sudah melampaui batas kewajaran sehingga dia merasa hidup hanya dengan Tuhan. Dia begitu acuh dengan lingkunagn sekitarnya, bahkan kepada kedua orang tuanya. Mereka sendiri yang bercerita kepadaku tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada Khoirul. Mereka tak tahu apa yang menyebabkan putranya seperti ini karena ketika ditanya Khoirul hanya diam seribu bahasa. Tak salah jika seseorang berkomunikasi dengan Tuhan, bahkan itu memang sudah menjadi kewajiban suatu umat sebagai bentuk rasa syukur dan ucapan terima kasih atas segala karunia yang telah Ia berikan secara cuma-cuma. Tapi tidak dengan berlebihan karena Tuhan tidak suka dengan apapun yang berlebihan.
Pernah ku coba untuk menasihatinya, sebagai sahabat aku berkewajiban mengingatkannya pada kebenaran. Namun kembali aku mendapat perlakuan yang tak ku harapkan walau sudah ku sangka sebelumnya.
“Nis, aku yang paling tahu apa yang terbaik buat diriku, kamu ndak usah sok-sokan ngajari aku.” Ujarnya dengan nada sedikit ketus, “Siapa lagi yang bisa mengabulkan permintaanku selain Tuhan?”
Aku hanya merunduk tak berdaya. Aku memilih untuk mengalah. Jika aku meneruskan berbincangan hanya akan terjadi perdebatan yang tiada artinya. Percuma, toh hati Khoirul sudah sekeras batu.
***
Langkahku terseok-seok. Tak mampu aku berlari tegap. Air mataku ku biarkan membanjiri lantai yang ku lewati. Ke percepat langkahku menuju Unit Gawat Darurat. Samar-samar dari kejauhan ku lihat kedua orang tua Khoirul mondar-mandir di depan pintu UGD. Aku berhenti sebentar untuk mengusap air mataku dan mengatur emosiku. Aku tak ingin membuat mereka tambah sedih. Perlahan ku dekati mereka.
“Assalamu’alaikum, Pak, Bu..” Sapaku lirih. Keduanya langsung menoleh ke arahku.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka hampir bersamaan.
Wajah mereka terlihat begitu sayu dan masih terlihat dengan jelas pipi basah dari wanita yang kini menghampiriku dan memelukku. Air di sudut mataku pun tak mampu lagi ku bendung. Kami larut dalam isakan.
Bersamaan dengan itu, seorang dokter keluar dari pintu UGD. Kami bertiga menghampirinya dengan penuh harap. Berharap beliau akan menyampaikan kabar gembira untuk kami.
“Khoirul belum sadarkan diri. Dia masih harus dirawat dan kaki kanannya harus segera diamputasi.”
Terdengar isakan ibunda Khoirul makin keras dipundakku.
***
Keesokan harinya aku kembali menghampiri sosok yang terkulai lemah di pembaringan rumah sakit. Ku pasang wajahku sesumringah mungkin, walau dalam hati aku masih tak tega melihatnya seperti ini. Hatiku menangis, lirih terdengar suara rintihan dari dalam hatiku, kenapa harus Khoirul yang mengalami ini?
Kecelakaan itu terjadi begitu saja tanpa ada yang bisa mencegah atau menghalanginya. Setelah tahu bahwa Khoirul gagal menembus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri dia langsung tancap gas tanpa tujuan, dan petaka pun tak bisa terhindarkan lagi. Itulah kuasa Tuhan. Dia lah yang maha berkehendak. Apapun yang Dia inginkan, apapun yang Dia rencanakan, semua ada di tangannya. Kita sebagai makhluk hanya bisa tunduk dan percaya bahwa semua itu adalah demi kebaikan kita selaku umatnya. Walaupun saat ini terasa menyakitkan, tapi kelak kita akan bersyukur atas apa yang terjadi saat ini. Karena Tuhan yang paling tahu apa yang paling tepat untuk hambanya yang mau berusaha dan berdoa.
Khoirul tampak sedikit acuh ketika ku dekati. Ku letakkan barang bawaanku di samping meja. Kulemparkan senyum teramahku, tapi dia tak merespon dengan baik. Ekspresinya begitu datar. Mungkin dia menahan sakit pada tubuhnya, terlebih sakit pada hatinya.
“Apa aku masih bisa menjadi seorang guru?” Tanyanya datar.
“Tentu bisa.” Jawabku yakin.
“Dengan kondisiku seperti sekarang ini?” Khoirul tampak ragu. “Aku meragukan kebesaran-Nya. Kenapa dia memberiku cobaan seperti ini? Tuhan ndak adil.” Tampak sekali wajahnya yang kecewa.
“Rul, Tuhan paling tahu apa yang terbaik untuk umatnya. Pasti ada hikmah besar di balik ini semua. Jadi guru itu sama dengan menjadi pemimpin, bahkan lebih dari itu, selain memimpin siswanya dia juga harus mendidik siswanya. Tapi sebelum itu dia harus terlebih dahulu memimpin dirinya sendiri. Guru bukan hanya yang berseragam dan selalu berangkat pagi-pagi lalu pulang siang atau sore hari.” Kulihat dia seperti sedang mencerna kata-kataku. “Aku tidak bermaksud mengguruimu, Rul, percayalah Tuhan telah merencanakan sesuatu yang indah untuk umatnya yang telah berusaha. Jadilah Khoirul yang sebenarnya. Orangtuamu memberimu nama Khoirul itu bukan tanpa arti, beliau mendoakan mu supaya selalu lebih baik.”
Khoirul nampak berkaca-kaca. Perlahan butiran-butiran halus jatuh dari sudut matanya.
“Astaqfirullah hal adzim.” Makin deras air matanya dan membasahi bantal rumah sakit. “Nis, aku minta maaf ya, selama ini aku banyak salah sama kamu, aku sering menyakitimu, tapi kamu tetap sabar menghadapiku. Makasih ya Nis, atas semuanya. Aku mau jadi guru untuk diriku sendiri dulu sebelum menggurui orang lain.”
Tumpahlah pula air mataku. Sungguh aku merasakan kebahagiaan hari ini. Sahabatku telah kembali. Terimakasih Tuhan, rencanamu sungguh indah.
Itu cerita apa?
BalasHapusya cerita lah mas hehe
BalasHapus