“Ricko selingkuh, Hef. Di depan mataku sendiri, aku lihat dia pegangan tangan sama cewek lain di mall. Padahal dia pegang tanganku aja nggak pernah.” Ujar Bela sambil sesenggukan. “Awalnya dia nyuekin aku, disms jarang bales, ditelfon nggak pernah diangkat, susah banget diajak ketemuan, ternyata dia selingkuh.” Tambah dia yang makin sesenggukan.
Saya menatapnya dengan seksama “Kamu marah? Kamu benci? Kamu masih pengen nangis?” Saya tahu itu pertanyaan retorik.
Bela mengangguk perlahan sambil berusaha menghapus air matanya. “Kamu butuh berapa lama buat nangis?” Dia diam menanggapi pertanyaan saya. “Oke, aku beri kamu waktu 1 jam buat nangis, nangislah sampai kamu puas.” Tambah saya lagi. Bela menatapku dengan tatapan heran. Mungkin Bela mengganggap saya ini sahabat yang kejam, bukannya di’cup-cup’ biar nggak nangis, malah di suruh nangis sampai puas, ditinggal tidur pula. Hehehe, memang selama dia nangis saya tinggal tidur. Maksud saya biar tidak mengganggu kekusyukan dia dalam meluapkan emosinya.
Bela mengangguk perlahan sambil berusaha menghapus air matanya. “Kamu butuh berapa lama buat nangis?” Dia diam menanggapi pertanyaan saya. “Oke, aku beri kamu waktu 1 jam buat nangis, nangislah sampai kamu puas.” Tambah saya lagi. Bela menatapku dengan tatapan heran. Mungkin Bela mengganggap saya ini sahabat yang kejam, bukannya di’cup-cup’ biar nggak nangis, malah di suruh nangis sampai puas, ditinggal tidur pula. Hehehe, memang selama dia nangis saya tinggal tidur. Maksud saya biar tidak mengganggu kekusyukan dia dalam meluapkan emosinya.
Belum ada 1 jam tidur, saya harus terbangun karena Bela memukul-mukul bahu saya. “Udah selesai ya nangisnya? Kok cepet?” Tanya saya dengan tampang innocent.
“Huuuaaaaaa!!!!!” Tangis Bela makin menjadi-jadi. Aduh! Salah taktik nih saya. Saya menggaruk-garuk kepala saya yang tidak gatal. Saya mencoba memutar otak untuk mencari taktik yang tepat untuk menggarap masalah ini. Saya sempat kewalahan juga untuk membuat Bela diam. Tapi akhirnya saya bisa membungkam gadis manja yang satu ini dengan ancaman akan menggantung kucing kesayangannya di atas pohon, kalau dia nggak mau diam, haha.
Saya tahu dia sangat terpukul dengan kejadian ini. Bayangkan saja, baru pertama kali pacaran sudah mendapatkan pengalaman yang fantastis seperti ini, hehe. Terlebih pria ini sudah dia dambakan sekitar 1 tahun yang lalu. Dan mereka baru remsi jadian 2 minggu. Mungkin bagi dia dunia seakan mau runtuh. Saya nggak tahu juga sih persisnya seperti apa, soalnya saya belum pernah mengalaminya sendiri. Tapi menurut cerita teman-teman saya sih seperti itulah rasanya.
“Aku kurang apa sih, Hef? Aku sayang sama dia, aku cinta sama dia, tapi kenapa balasannya kaya gini? Tuhan nggak adil! Huuaaaa!”
“Bela sayang, coba deh buka lebar-lebar mata kamu! Tuhan itu sangat-sangat adil sekali. Sekarang coba kamu tarik napas dan tenangin diri kamu.” Dia pun mengikuti perintah saya. “Tanpa kamu sadari, justru Tuhan itu sedang melindungi kamu. Buat apa kamu menangisi hilangnya seorang pecundang dari dirimu? Tegaskanlah pada dirimu dan yakinlah Tuhan akan mengirimkan lelaki yang super untuk kamu kelak, yang jauh lebih pantas buat kamu. Tuhan hanya ingin menunjukkan ke kamu bahwa Ricko itu lelaki yang nggak pantas buat kamu. Ya, boleh lah kamu sekarang nangis, tapi suatu saat nanti kamu akan bersyukur telah dijauhkan darinya. Nggak semua yang kita rasa baik itu adalah baik, Tuhanlah yang paling tahu apa yang terbaik buat kita, hanya mungkin caranya yang kita nggak suka, tapi percayalah itu semua adalah step-step untuk meningkatkan iman kita dan semua adalah untuk kebaikan kita juga kok. Lalu dimana letak ketidakadilan Tuhan? Semuanya sudah Dia perhitungkan, dan pasti ada hikmah di balik ini. Percayalah! Tuhan kita maha luar biasa.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar